Sinergi Untuk Kesehatan Yang Merata di Seluruh Indonesia
Sabtu, 29 Mei 2010 [ 15:30 ]

Kerjasama lintas sektoral dalam bidang pelaksanaan pelayanan kesehatan merupakan salah satu syarat penting bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia yang berjumlah sangat banyak. Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Tentara Nasional Indonesia, Laksamana Agus Suhartono, SE. dalam sambutannya di acara Penandatanganan Memo of Understanding (MoU) antara pihak Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL), Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Dirjen Bina Yan Medik Kemenkes RI), Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (PP PABI), dan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anesthesi Indonesia (PP IDSAI) tentang Pelayanan Kesehatan pada Kegiatan Bakti Sosial dan Penanggulangan Korban Bencana Alam Nasional yang bertempat di Dek C KRI Dr. Soeharso Jum’at (27/5) siang. Pihak Dirjen Bina Yan Medik Kemenkes RI diwakili oleh DR. Dr. Sutoto Jakobus, M.Kes, pihak TNI-AL oleh Kepala Dinas Kesehatan Angkatan Laut (Kadiskesal), Dr. Kusdinar Diyon, Sp.S, PP PABI oleh Ketua PABI, Prof. DR. Dr. Paul Tahalele, FINACS., dan PP IDSAI diwakili oleh Dr. Kohar Hari Santoso, Sp.An, KIC.
Ibu Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Ph.D hadir untuk menyaksikan momen penandatanganan MoU bersama dengan KASAL TNI AL.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa sebagai rumah sakit terapung seperti KRI Dr. Soeharso sangat diperlukan dalam membantu pemerataan pelayanan kesehatan di daerah-daerah terpencil seperti pulau-pulau kecil di utara Laut Jawa. Awak kesehatan di kapal kesehatan yang memiliki fasilitas setara dengan Rumah Sakit Kelas B ini masih membutuhkan lebih banyak dokter spesialis. Hal ini mendorong perlunya kerjasama dengan berbagai pihak yang bergerak di bidang kesehatan seperti organisasi profesi. Tidak hanya dengan PABI dan IDSAI, kami harap untuk selanjutnya organisasi profesi kedokteran lainnya juga segera bergabung, ujar beliau.
Selain menyaksikan penandatanganan MoU, Menkes RI meninjau berbagai fasilitas kesehatan dalam kapal kesehatan satu-satunya di Asia Tenggara ini didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan Armada Timur (Kadiskes Armatim), dr. Ari Zakaria, Sp.OT. Kapal yang dibuat di Korea pada tahun 2003 ini memiliki instalasi kesehatan yang cukup lengkap dari klinik THT, ruang radiologi,klinik obstetri dan ginekologi, klinik mata, klinik gigi, laboratorium diagnostik, ruang farmasi, ruang rawat intensif (ICU), hingga ruang bedah steril dan kamar mayat.
Sesungguhnya, kapal yang didesain khusus untuk kapal kesehatan ini sempat difungsikan sementara sebagai kapal angkut militer saat fasilitas didalamnya masih belum lengkap. Ketika itu, kapal masih bernama KRI Tanjung Dalpele. Makanya, masih ada beberapa senjata disini yang akan kami keluarkan secara bertahap, terang Letnan Kolonel Laut (P) H. Yudho Warsono, komandan KRI Dr. Soeharso. Kapal yang memiliki 126 orang anak buah kapal (ABK) dan 65 orang dokter perwira kesehatan ini resmi menjadi kapal kesehatan secara fungsional pada tahun 2007 setelah menerima bantuan alat-alat kesehatan dari berbagai pihak kepemerintahan seperti Dewan Perwakilan Rakyat, Departemen Kesehatan, Departemen Pertahanan, dan lain-lain. Sejak saat itulah, kapal tersebut berganti nama menjadi KRI Dr. Soeharso, nama yang diambil dari seorang dokter pejuang yang merawat banyak pasukan terluka pada perjuangan tahun 1945. Harapan kami, kerjasama ini membuka kesempatan bagi kita semua untuk bergerak bersama secara professional dalam membantu masyarakat, ujar beliau lagi. Mari, kita hidupkan kembali sosok Dr. Soeharso, dokter yang pejuang! (lala)